Sejarah Dan Legenda Desa

Sejarah Desa Kalipurwo dari awal babad desa sangat terbatas karena tidak adanya sumber tertulis dan beberapa legenda hanya di berikan kepada orang-orang tertentu saja. Sehingga tulisan ini hanya akan memberikan sedikit gambaran dari apa yang sejatinya disebut sebagai legenda dan sejarah desa.

Dari sejarah desa Kalipurwo dapat di bagi menjadi tiga yakni era sebelum Joko Sangkrip dan sesudahnya. Era Sebelum Joko sangkrip merupakan era babad desa yang sampai saat ini belum sepenuhnya tergali dengan baik baik legenda maupun sejarah. Sementara era Joko sangkrip ini menggambarkan adanya penamaan desa dan juga melibatkan desa menjadi wilayah administratif Kabupaten Ambal.

A.      Era Sebelum Joko Sangkrip Datang

Kisah ini diawali dengan adanya perang jawa (Java Orlog) yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro ini perang yang melibatkan hampir seluruh lapisan masyarakat. Sebagaimana perang yang lain perang juga mengakibatkan perpindahan penduduk. Para pejuang yang tidak mau dibawah pemerintah belanda ini bergerak kearah barat dan membabad hutan untuk membentuk desa baru. Hutan yang belum dibabad ini rata-rata merupakan daerah yang berupa rawa-rawa. Karena daerah rawa-rawa ini berada di daerah rendah dan sangat sedikit yang tidak tergenang air secara permanen kebanyakan berupa empang (blumbang).

Hal lainnya sumber air bersih di rawa-rawa itu sangat sedikit dan juga karena daerahnya rendah maka untuk pertanian kurang baik karena sawah sering terbenam banjir. Orang baru yang tinggal di rawa-rawa ini biasanya secara ekonomi terbelakang dan munculah penamaan yang baru yang agak diskriminatif yaitu “wong ngera”. Legenda ini merupakan legenda yang umum terjadi di desa-desa yang berada di daerah bonorawan ini terutama Kuwarasan daerah selatan dan puring sebelah utara. Dari kisah tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa perpindahan penduduk ini “wong era” ini bukan disebabkan masalah ekonomi dan keamanan seperti perpindahan penduduk biasanya tetapi di karenakan keinginan untuk bebas dari penjajahan Belanda. Maka dengan itu perpindahan penduduk “wong era” ini dapat disebut perpindahan penduduk idealis.

Salah satu desa yang terbentuk karena hal ini adalah desa Purwogondo menurut keterangan Alm Mbah Noto Sugiyo dengan pembabad pertama bernama Mbah Tanu. Mbah Tanu adalah pembabat desa Purwogondo yang sekarang pekuburunnya ada di pekuburan desa Kalipurwo yang dulu berupa Unur (gundukan rumah rayap).

B.      Era Setelah kedatangan Joko Sangkrip

Joko Sangkrip di gambarkan orang yang masih keturunan dari Mataram dan dia sebelum menjadi Bupati dia mengembara dan menginap dirumah Mbah Madi pada waktu itu pertanian di wilayah tersebut kurang baik dikarenakan sungainya mengalami pendangkalan sehingga sulit untuk mengairi sawah. Joko Sangkrip kemudian berinisiatif untuk menggerakan warga mengeruk sungai agar dapat digunakan untuk mengairi sawah. Karena  telak dikeruk maka aliran sungainya deras maka Joko Sangkrip berkata “sok mben nek wilayah iki rame dadi desa  Kalideres” (kalo besok wilayah ini ramai jadi desa yang namanya Kalideres). Karena semangat kerja keras leluhur untuk menggali sungai sampai sekarang orang Kalideres terkenal sebagai petani yang bekerja keras.

Setelah Joko Sangkrip berkunjung di desa Kalideres Joko Sangkrip berjalan ke Selatan dia mencium bau harum dari tetumbuhan yang hidup di rawa-rawa kemudian Joko Sangkrip berkata “Sok mben wilayah iki ramai sesuk wilayah iki dadi desa Purwogondo”. Maka jadilah Desa Purwogondo yang sampai sekarang lebih terkenal (harum) daripada wilayah-wilayah bonorawan dari sekolah, Pasar dan Rumah Sakit semuanya bernama Purwogondo dan memang memiliki nilai strategis yang sangat penting.

Joko Sangkrip memulai lagi perjalanannya dan berjalan kearah barat berkunjung ke rumah dan memakan lemang (makanan yang terbuat dari ketan dibakar) karena enak maka disebut lemangsari.

Pada masa 1910 berdirilah sekolah rakyat di desa Purwogondo sehingga sampai sekarang nama sekolahan masih bernama SDN purwogondo. Akan tetapi pada tahun 1948 bangunan desa tersebut dibakar karena dianggap monument penjajahan belanda.

Pada zaman masa Pemerintahan Belanda di Kecamatan Kuwarasan ada dua desa yang berhimpitan yaitu Desa Kalideres yang di pimpin oleh kepala desa Karta Pawira dan Desa Purwogondo di pimpin oleh kepala desa Nimran Sastro Wijoyo karena kedua desa dianggap kecil/ tidak luas, maka pejabat atasan yaitu bupati/ wedana/ asisten pada tahun 1924 kedua desa tersebut di blengket (dijadikan satu) yaitu Desa KALIPURWO, KALI (asal kata darI Ka dan LI Kalideres dan lemangsari) dan PURWO (asal kata dari Purwogondo)

Kedua pimpinan desa tersebut diberhentikan dan diadakan pemilihan kepala desa baru. Pemilihan kepala desa yang baru masih menggunakan sistem dodokan (jongkok) yaitu para pemilih calon kepala desa berjongkok di depan jagonya masing-masing. Dan terpilihlah Bapak Timbul sebagai kepala desa pertama di Desa Kalipurwo.

 

 

Ditulis Oleh :
Pada : 30 April 2014 17:20:39 WIB

Komentar Artikel Terkait

FdibUzpztBKJnCasQJ
11 Agustus 2015 02:13:04 WIB

Berkata, zZqxCS http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com

FxWmHAEwp
09 Agustus 2015 19:03:07 WIB

Berkata, S0VaxR http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com

vQvOjSymMtPSBeRdmo
09 Agustus 2015 18:29:26 WIB

Berkata, VqNMTX http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com

XjCJtQwcm
08 Agustus 2015 22:53:22 WIB

Berkata, w07r8L http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com

Sayidf
23 Mei 2015 19:17:29 WIB

Berkata, Bagus juga, tapi kalau bisa ditambah nara sumber yang lain biar, ceritanya lebih valid.

Post Komentar :


Nama
Alamat Email
Komentar